Minasanews.Com.Barru— Dalam rapat kerja yang digelar DPRD Barru dengan agenda pembahasan masalah el nino Rabu(18/10/2023) di ruang paripurna dewan. Ketersediaan air bersih PDAM Tirta Waesai paling banyak disorot para anggota dewan.
Meski raker yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Barru H Kamil Ruddin dan hanya dihadiri 5 anggota dewan. Namun sejumlah sorotan terhadap kondisi air yang sedang mengalami krisis akibat fenomena el nino ini dikuliti para legislator karena para warga sudah mengeluhkan masalah tersebut.
Anggota PDIP Syamsu Rijal tampil sebagai pembicara awal raker dalam memberikan pandangan terkait raker el nino. Dalam kondisi seperti sekarang kita didewan butuh penjelasan detail tentang kondisi dari dampak el nino. Terkhusus ke pihak PDAM yang ikut dihadirkan dalam raker ini.
“Kami butuh penjelasan dari berbagai OPD terkait upayanya menghadapi kondisi el nino. Terutama pihak PDAM yang banyak bersinggungan dengan permasalahan air bersih,” ujar Syamsu Rijal.
Tanggapan dan kritik lainnya juga dilontarkan legislator Demokrat Syahrullah. Wakil rakyat ini termasuk paling getol mengkritik kondisi penambahan instalasi yang diakuinya bisa mengurangi debit dan volume air.
“Apalagi ada beberapa rencana PDAM akan melakukan pemasangan instalasi dibeberapa titik diberbagai kecamatan justru berimbas kepada berdampak kepada sumber yang justru sudah kering,” ucap Syahrullah.
Sangat urgen kata Syahrullah agar PDAM menyiapkan penambahan sarana prasarana kelengkapan seperti mesin air. Begitu pula dengan penanggulangan bencana, Seperti kebakaran. Pihak Damkar dan BPBD harus lebih tanggap dalam mengatasi dan menangani kebakaran dan beberapa fenomena alam yang berhubungan dengan gejala el nino.
Meski begitu wakil partai Demokrat ini mengakui jika beberapa OPD sudah tanggap seperti Dinsos, Damkar dan BPBD serta OPD lain dalam menghadapi gejala el nino ini. “Kendati begitu perlu lebih intens melakukan sosialisasi ke masyarakat dan terus menguatkan kolaborasi antar OPD terkait,” harapnya.
Wakil Gerindra di DPRD Barru, Alffandi Aska juga menyoroti peran PDAM untuk lebih giat mencari sumber air karena disaat cuaca ekstrim masih ada beberapa sumber air yang belum dimanfaatkan.
Sementara itu Direktur PDAM Tirta Waesai, Aksan Jafar menyatakan pihaknya saat ini melakukan pelayanan tangki bekerjasama dengan Damkar dan BPBD. “Jadi PDAM sudah berusaha menyasar para pelanggan untuk melakukan pengantaran air tangki secara bergilir,” ujar Aksan.
Optimalisasi sumber air telah dilakukan PDAM, kata Aksan lagi. “Yakni dengan mempelebar sumur resapan seperti di sungai Batubessi dengan cara memperdalam sumur resapan dan membuka sumber-sumber air bersih lainnya,” jelasnya.
Aksan mengakui saat ini sumber air mengalami krisis. “Terutama pada dua sumber air di Waesai dan Batubessi. Sekarang kami sudah turunkan tiga mesin. Meski juga diakui bahwa ada dari sebagian sumber air dari sungai berbau lumpur karena pengaruh endapan lumpur sungai,” bebernya.
Aksan juga menyoroti kebaradaan penambang disungai Batubessi yang berpotensi mengganggu sumber air bersih. “Tetapi kami sudah mengupayakan melakukan pendekatan agar.tidak menganggu sumber air resapan,” terang Aksan.
Sebagai upaya, lanjut Aksan. “Kami juga melakukan rekayasa sumber air dengan memperbanyak pencarian titik air untuk dibuat sumur resapan. Dua andalan sungai sebagai sumber air sudah kewalahan. Sekarang lagi mencari dukungan sumber air di Waenunge dan Allappang,” ungkapnya.
Ditambahkan Aksan. Pihak PDAM juga memperoleh tantangan dari kalangan petani karena mereka juga ikut memanfaatkan sumber disungai Batubessi untuk kepentingan air persawahan.
Selain it, Dirut PDAM juga mengeluhkan kondisi mesin air yang sudah berumur diatas lima tahun. Begitu pula dengan umur sejumlah aliran perpipaan yang sudah berumur. “Kami butuh mesin yang bisa memproduksi air 20 liter perdetik,” keluhnya.
Saat ini kita butuh anggaran karena beberapa titik sumber air butuh penggantian mesin sumur bor, pergantian pipa dan pergantian pompa air.
Syamsu Rijal juga menambahkan sorotan yang meragukan upaya PDAM dengan beberapa sumber air yang sudah mengkhawatirkan. “Apakah PDAM bisa memastikan beberapa sumber resapan air bisa dialirkan untuk para pelanggan disaat kondisi kemarau sangat panjang ini?,” ujar Ancu begitu sapaan Syamsu Rijal dengan nada tanya.
“Termasuk para penambang. Apa upaya pihak PDAM berhadapan dengan warga yang menambang,” tambahnya.
Tanggapan berbeda juga dilontarkan Anggota DPRD Barru lainnya. Andi Wawo Mannojengi sebagai wakil PPP justru ragu dengan kondisi anggaran yang sudah dipatok dalam APBD terkait dengan efek el Nino.
Tetapi lebih lanjut menyatakan saat ini masih ada sumber air yang tersisa dibeberapa tempat di Mangempang dan Tuwung. “Hanya saja PDAM harus memiliki kelengkapan peralatan memadai, untuk menggarap sumber air tersebut. Apalagi saat ini memang sumber air yang sudah sangat kurang,” ujar Andi Wawo. ( Udi)





















