instagram youtube

Bupati Barru Hadiri Mappalili

Rusdi - Penulis Berita

Rabu, 7 Oktober 2026 - 07:52 WIB

Minasanews.Com.Barru–Pemerintah Desa Cilellang, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru menggelar tradisi adat Mappalili sebagai tanda dimulainya Musim Tanam 2026/2027 dan Musim Tanam 2027. Acara tersebut dihadiri langsung Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari, S.H., M.Si., di areal persawahan Dusun Cilellang Selatan, Desa Cilellang, Rabu (07/10/2026).

Tradisi Mappalili merupakan ritual adat suku Bugis yang dilakukan setiap akan turun sawah. Ritual ini berisi doa bersama agar hujan segera turun, tanaman terhindar dari hama penyakit, dan hasil panen melimpah.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Barru, Camat Mallusetasi, Kapolsek Mallusetasi, Danramil Mallusetasi, Kepala Desa Cilellang, para penyuluh pertanian, ketua dan anggota kelompok tani, kepala dusun, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta pimpinan OPD lingkup Pemerintah Kabupaten Barru.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Cilellang Perawati mengucapkan terima kasih atas kehadiran Bupati Barru. Ia menyebut ini adalah tahun kedua Bupati hadir di acara Mappalili di desanya.

“Selamat datang kepada Ibu Bupati beserta rombongan di Desa Cilellang. Tahun lalu Ibu Bupati juga hadir di acara Mappalili di Dusun Cilellang Utara, tahun ini di Cilellang Selatan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, lokasi pelaksanaan Mappalili tahun ini merupakan lokasi yang secara turun-temurun dianggap sakral dan selalu menjadi tempat dimulainya ritual sebelum turun sawah.

“Kita melaksanakan Mappalili atau turun sawah dengan harapan semoga nantinya bisa turun hujan, kita bisa bertani dan mendapatkan hasil yang melimpah dan dibebaskan dari hama,” katanya.

Pada kesempatan itu, Kades juga menyampaikan aspirasi petani terkait infrastruktur jalan tani yang masih menjadi kendala saat mengangkut hasil panen.

“Harapan kami mewakili para kelompok tani, mudah-mudahan jalan tani yang kita lewati tadi bisa diperhatikan. Alhamdulillah ada kabar baik katanya sudah bisa dikerjakan tahun ini,” ungkapnya.

Menurutnya, keterbatasan Dana Desa membuat pemerintah desa sangat bergantung pada bantuan pemerintah kabupaten untuk pembangunan infrastruktur pertanian.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Ahmad Kabupaten Barru menyampaikan apresiasi kepada Desa Cilellang sebagai salah satu desa yang paling responsif dalam menjaga tradisi pertanian.

Baca Juga :  Tim 1 DPRD Barru Akhiri Sosialisasi Ranperda Inisiatif di Kecamatan Pujananting

“Desa Cilellang ini sangat responsif terhadap yang namanya turun sawah. Turun sawah itu adalah bagian dari kebahagiaan dan kesiapan untuk menyongsong pola tanam,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan prakiraan BMKG, wilayah pesisir barat Sulawesi Selatan termasuk Barru masuk kategori ENSO dan diprediksi hujan baru akan turun pada minggu ketiga November 2026.

“Prinsipnya wajib seluruh kelompok tani di Kabupaten Barru mengikuti iklim, jangan melawan iklim,” tegasnya.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, ia menekankan tiga hal: pertama, percepatan pola tanam, kedua, merubah pola tanam sesuai iklim, dan ketiga, menggunakan varietas umur pendek.

Ia juga menyebut capaian membanggakan di tahun 2025, di mana realisasi tanam di Barru tembus 30.000 hektare dalam setahun dan harga gabah pada Musim Tanam II (MT2) stabil di angka Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per kilogram.

“Ini yang membuat Nilai Tukar Petani (NTP) kita naik. Petani bahagia karena produksi bagus dan harga tinggi,” katanya.

Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari dalam sambutan utamanya menegaskan bahwa Mappalili harus dimaknai lebih dari sekadar acara seremonial.

“Mappalili ini bukan sekadar hanya turun dengan para pejabat mencangkul dan kemudian selesai. Tetapi Mappalili ini adalah doa. Kita memulai pekerjaan dengan Bismillah, kita memanjatkan doa semoga apa yang kita lakukan itu insya Allah akan memberikan manfaat besar untuk masyarakat, khususnya para petani,” ujar Andi Ina.

Bupati perempuan pertama di Barru itu menyebut tradisi tersebut adalah warisan leluhur yang wajib dijaga.

“Ini harus terus kita jaga. Jangan sampai Mappalili ini hilang. Inilah kewajiban kita semua untuk terus menjaga budaya dari orang tua kita yang mengajarkan bahwa ada Allah di atas yang mengatur semuanya,” katanya.

Andi Ina juga mengajak kelompok tani untuk memperkuat kebersamaan dan tidak berjalan sendiri dalam menentukan pola tanam dan penggunaan bibit.

Baca Juga :  Harap-harap Cemas Pejabat Pemkab Barru Jelang Pelantikan

“Kalau kita kuat bersama, apapun masalah pertanian kita akan teratasi. Jangan kita jalan sendiri, jangan hanya mendengar orang di sana pakai bibit beda terus kita ikut. Belum tentu hasilnya sama karena kondisi lahan berbeda. Ikuti arahan penyuluh dan pemerintah,” tegasnya.

Ia pun meminta penyuluh pertanian untuk benar-benar hadir sebagai pendamping petani di lapangan.

“Tugas penyuluh itu adalah pendampingnya petani. Harus tahu apa masalahnya petani dan harus tersampaikan kepada pimpinan agar ada solusinya. Jangan biarkan petani bermasalah dilihat saja,” ujarnya.

Menanggapi musim kemarau panjang yang masih melanda, Bupati mengajak petani untuk memperbanyak doa agar hujan turun lebih cepat dari prediksi BMKG.

“Kita manusia bisa berencana, BMKG bisa membaca dengan alat, tetapi ada kuasa yang lebih besar yaitu Allah SWT. Saya yakin kalau kita perbanyak berdoa, insya Allah hujan bisa lebih cepat dari minggu ketiga November,” ucapnya.

Di akhir sambutan, Bupati menyampaikan komitmennya untuk membantu petani Desa Cilellang melalui program jalan tani, bantuan benih, alat dan mesin pertanian (alsintan), serta program Brigade Pangan.

“Insya Allah ada jalan tani nantinya yang akan dikeluarkan melalui Dinas Pertanian. Tapi saya berpesan, jalan tani ini tidak boleh memotong persawahan, tidak boleh mengurangi jumlah luasan lahan sawah yang ada,” katanya.

Selain itu, Andi Ina juga memberikan penekanan khusus terkait program cetak sawah baru agar tidak mubazir.

“Saya tekankan kepada cetak sawah itu jangan hanya melihat program itu kita dapat dan kemudian langsung diambil. Harus tepat sasaran. Jangan sampai lahan yang dijadikan cetak sawah ternyata bukan lahan pertanian dan tidak bisa ditanam. Akhirnya anggaran terbuang. Satu rupiah anggaran itu sangat berarti untuk masyarakat. Lebih bagus tolak kalau memang tidak bisa dimanfaatkan,” pungkasnya.(Udi)

Berita Terkait

SMABAR Peduli Bantu Difabel Korban KA
Mahasiswa UIN Alauddin Kecelakaan Tunggal, Dua Orang Meninggal
Distribusi Logistik Bergeser ke TPS, Bupati Barru Harap Pemilu Damai
Pemkab Barru Komitmen Dukung Pengembangan Ponpes DDI Mangkoso
Tiga Cabor dan Dua Lomba Seni Ramaikan Porseni PKK Barru
Komisi II DPRD Barru Dorong OPD Rampungkan Realisasi Pelaksanaan Anggaran Semester Satu
Pangkep Miliki Pengolahan Sampah RDF Senilai Rp 20 Milyar
Bupati MYL Minta Program PC Muslimat NU Bersinergi Pemerintah Daerah

Berita Terkait

Jumat, 12 Mei 2023 - 06:13 WIB

Sehari DPRD Barru Helat Dua Paripurna Masa Sidang

Kamis, 7 September 2023 - 12:08 WIB

Plant Badriah Sarana Pengolahan Sampah jadi Bahan Bakar Resmi dioperasikan Semen Tonasa

Selasa, 14 Maret 2023 - 17:08 WIB

Semarak Dies Natalis ke 71, Fakultas Hukum Unhas Gelar Sosialisasi Hukum di Pangkep

Senin, 13 Februari 2023 - 06:56 WIB

Mayat Tanpa Identitas Dikubur Warga di Pulau Kawassang

Sabtu, 26 April 2025 - 17:16 WIB

Komisi I DPRD Barru Serap Aspirasi Warga Tiga Desa di Mallusetasi

Jumat, 19 Mei 2023 - 16:00 WIB

Warga Lebih Pilih Belanja di Bone, Dewan Desak Dinas PUTR Barru Benahi Jalan Rusak Doi-doi- Gattareng

Selasa, 19 September 2023 - 06:45 WIB

Ketua DPRD Barru Bersama Bupati Teken Nota Kesepahaman KUPA-PPAS 2023

Rabu, 7 Agustus 2024 - 22:00 WIB

Sambut Hari Jadi Kerukunan Istri Karyawan PT Semen Tonasa, Selenggarakan Lomba Volli Hingga Fun Games

Berita Terbaru

Daerah

Sinergi Pemkab Barru dan Polda Sulsel

Jumat, 9 Okt 2026 - 07:02 WIB

Daerah

Bupati Barru Prihatin Capaian BTQ Siswa SMA

Kamis, 8 Okt 2026 - 16:00 WIB

Daerah

Sinergi Pemkab Barru dan Nahdatul Ulama

Rabu, 7 Okt 2026 - 16:41 WIB

Daerah

Bupati Barru Usul Bantuan CSR Sampah ke PLN

Rabu, 7 Okt 2026 - 16:27 WIB