Minasanews.Com.Barru— Pemilihan suara ulang( PSU) di dapil 1 Takkalasi dinanti publik Barru. Tetapi dua kubu caleg satu partai ini diliputi rasa was-was. Sebab hasil akhir dari PSU tersebut akan menentukan dua nasib caleg dari partai Golkar ini.
Siapa yang meraih suara terbanyak di PSU itu akan melenggang ke parlemen Barru. Tetapi yang memperoleh suara minim, resikonya gagal menjadi anggota DPRD Barru periode 2024-2029. Memang PSU didapil 1 Takkalasi merupakan pertarungan dua caleg partai Golkar antara petahana H Erdi dengan Aprisal Jaya sebagai caleg pendatang baru.
Perebutan suara di PSU antara dua anak pengusaha di Barru bakal berlangsung seru dan dikhawatirkan menimbulkan potensi kerawanan yang bisa terjadi jika Pemungutan Suara Ulang(PSU) tetap digelar di TPS 1 Takkalasi kecamatan Balusu kabupaten Barru.
Terutama konflik kepentingan para caleg karena bisa jadi TPS dengan jumlah suara pemilih lebih dari 258 wajib pilih ini akan jadi rebutan kedua caleg Golkar didapil tersebut.
PSU TPS 1 Takkalasi saat ini dinilai banyak pihak rawan terjadi dugaan praktek jual beli suara. Apalagi didapil ini ada dua caleg satu partai yang beda tipis raihan suaranya berdasarkan hasil perhitungan sementara kedua caleg tersebut.
Pemilihan suara ulang( PSU) di TPS 1 Takkalasi ini akan jadi ajang gengsi saling berebut suara dan simpati pemilih. Maka diprediksi akan ada pihak tertentu yang akan melakukan praktek politik uang karena bisa saja ada diantara caleg yang terpaksa menyiapkan modal besar demi pertarungan gengsi dalam meraup suara.
Menarik memang untuk dikulik PSU yang bakal digelar ini. Apalagi pertarungan di TPS 1 ini bukan hanya pertarungan petahana caleg dan pendatang baru dipartai yang sama. Tetapi warga di kabupaten Barru sudah sangat kenal dengan siapa dibelakang masing-masing dari dua caleg sesama partai yang perolehan suaranya sangat tipis ini.
Kedua caleg yang saat ini beda tipis raihan suaranya merupakan anak pengusaha ternama di kabupaten Barru, sehingga wajar saja kalau perhatian publik Barru tertuju kepada perhelatan PSU di TPS 1 Takkalasi ini.
Kini mencuat isu bahwa PSU ini bakal jadi ajang jual beli suara. Ada yang menyatakan PSU ini bernilai mahal. Beberapa pihak menyatakan jika satu suara bisa dibeli hingga kisaran Rp 3 juta hingga Rp 5 juta per satu suara. Bahkan ditengah semakin kencang situasi bahwa PSU akan segera dihelat. Muncul lagi informasi bahwa harga satu suara bisa dinilai diatas Rp 5 juta.
Seiring dengan adanya isu jual beli berseliweran. Kini kembali lagi warga memantik isu baru bahwa ada pihak yang berani bertaruh membeli suara dengan nilai jual satu suara hingga bertarif Rp 10 juta. Hanya saja menurut salah satu sumber menyatakan informasi tersebut masih sulit dipercaya karena belum bisa dibuktikan.
Publik Barru hanya berkaca pada pileg beberapa lalu saat ada PSU di wilayah Bojo kecamatan Mallusetasi. Ketika itu sudah menjadi rahasia umum kalau di PSU Bojo itu terjadi transaksi jual beli suara mulai dari tarif Rp 1 juta hingga Rp 2,5 juta setiap suara pada saat itu.
Salah seorang sumber pejabat salah satu partai di Barru yang minta tidak ditulis namanya menyatakan jangankan PSU rawan terjadi jual beli suara. Diberbagai jenis pemilihan utama saja seperti Pilpres, Pilkada dan pileg rentan dengan money politic.
“Peredaran uang untuk menarik pemilih bukan lagi hal luar biasa. Tetapi sudah menjadi tradisi disetiap perhelatan pemilu,” ujar Pengurus Parpol ini.
Hal senada juga diungkapkan salah seorang caleg pendatang baru dari partai Golkar di Barru secara blak-blakan mengaku telah membagikan uang kepada calon pemilih Rp 200 ribu sehari sebelum pencoblosan.
“Lalu pada malam pencoblosan dua petahana memasuki basis wilayah suara saya kemudian membagikan uang sebanyak Rp 300 ribu kepada setiap calon pemilih. Setelah itu, berselang beberapa waktu muncul lagi petahana dari partai lain juga datang bagi-bagi duit Rp 350 ribu perorang. Imbasnya suara yang saya harapkan itu eror sampai 50 persen. Tetapi Alhamdulillah saya bersyukur bisa unggul sebagai caleg pendatang baru,” beber Caleg partai Golkar yang minta tidak dituliskan namanya.
( Udi)





















