Minasanews.com,Makassar- Pemerintah kota Makassar mulai menyalurkan seragam gratis bagi siswa baru di tingkatan sekolah dasar (SD), dan sekolah menengah pertam (SMP) sebagai komitmen menghadirkan pendidikan yang inklusif dan bebas pungutan tambahan.
Penyaluran perdana berlangsung di SD Sambung Jawa dan SMP Negeri 3 Makassar pada Senin (21/7), dan dihadiri langsung oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin. Dalam sambutannya, Munafri menegaskan bahwa sekolah bukan tempat untuk berbisnis, apalagi membebani orang tua siswa dengan kewajiban membeli seragam dari pihak tertentu.
“Saya tidak ingin ada praktik jual-beli seragam di sekolah, baik oleh guru, komite, maupun pihak luar. Ini murni tanggung jawab pemerintah,” tegas Munafri yang akrab disapa Appi.
Program seragam gratis ini merupakan bagian dari kebijakan Pemkot melalui program “MULIA”, yang bertujuan meringankan beban ekonomi keluarga serta memastikan kesetaraan akses pendidikan di seluruh lapisan masyarakat. Tahun ini, setiap siswa baru akan menerima dua jenis seragam: pakaian harian dan pakaian olahraga. Pemkot juga tengah mempertimbangkan perluasan bantuan di tahun mendatang, menyesuaikan kemampuan fiskal daerah.
Tak hanya soal seragam, Munafri juga menyoroti pentingnya pemerataan distribusi siswa ke seluruh SMP negeri. Ia menilai penumpukan siswa di sekolah-sekolah favorit seperti SMP Negeri 3 justru memperbesar kesenjangan mutu antar sekolah.
“Saya minta Dinas Pendidikan segera menambah rombongan belajar, tapi juga harus menjamin pemerataan. Semua sekolah negeri di Makassar harus memiliki kualitas yang sama,” ujarnya.
Untuk itu, Pemkot akan mendorong peningkatan kapasitas guru, memperbaiki infrastruktur, dan mendorong inovasi dalam pengajaran. Munafri mengingatkan agar para guru tidak gagap teknologi dan aktif menciptakan metode pembelajaran yang kreatif.
“Jangan tunggu sistem jalan dulu baru bergerak. Guru harus bisa jadi motor inovasi. Saya bangga kalau guru viral karena prestasi, bukan karena kontroversi,” tambahnya.
Munafri juga mengimbau agar para orang tua menyampaikan keluhan melalui jalur resmi ke pihak sekolah atau Dinas Pendidikan, alih-alih langsung mengunggah ke media sosial. Ia menekankan pentingnya komunikasi yang sehat antara sekolah dan wali murid untuk menyelesaikan berbagai persoalan pendidikan.
Dalam kesempatan yang sama, ia meminta agar fasilitas sekolah seperti lapangan upacara bisa dimanfaatkan sebagai ruang olahraga bersama, dan mengajak seluruh pihak menjaga kebersihan lingkungan sekolah demi kenyamanan belajar siswa.
Di akhir kegiatan, Munafri berharap langkah ini menjadi awal dari transformasi pendidikan di Kota Makassar yang lebih adil dan berkualitas.
“Pendidikan adalah hak dasar, bukan komoditas. Pemerintah akan terus hadir dan memperbaiki sistem secara bertahap,” tutupnya.





















