instagram youtube

Penguasa dan Cendekiawan

admin - Penulis Berita

Kamis, 16 Februari 2023 - 13:40 WIB

Minasanews.com, Makassar – Hanyutnya cendikiawan dalam arus politik praktis ala penguasa , dalam zaman yang sedang berpura- pura baik.

Saat ini, ketika melihat kaum intelektual bermain lumpur kotor (politik) Bahasa ala Soe Hok Gie, mungkin sudah sangat lumrah, baik itu guru, dosen bahkan mahasiswa. Bermain terang –terangan di rana politik peraktis untuk “kepentingan” tak jadi aib lagi bagi kaum cendikiawan.

Walaupun Secara teori kaum cendikiawan adalah kaum yang bebas , berfikir dan berpendapat bebas dari sekat politik jadi ciri khas tersendiri bagi mereka, bahkan bisa dikatakan ini adalah senjata utama kaum cendikiawan.

Sebutan Cendikiawan, khususnya bagi mahasiswa yang mempunyai tiga fungsi utama, Agen of Change, social control, dan moral of force. Ketiga fungsi tersebut kaum cendikiawan seharusnya menjadi ujung tombak sebuah gerakan, penegah antara pengusa dan rakyat, bukan menjadi anjing – anjing birokrasi penguasa demi kepentingan pribadi.

Baca Juga :  Sukarmis Egil, Pengusaha Roti Asal Bone, Perluas Pasar dengan Brand Fans Bread

Cendikiawan harusnya hanya mempunyai satu kepentingan , yaitu menegakkan keadilan untuk kesejhatraan bersama, dengan kata lain kaum cendikiawan adalah panggung orasi untuk merong-rong penguasa yang bertindak totaliter, tampah dasar keadilan serta yang lupah akan janji janji manis di panggung politik sebelum berkuasa.

Namun, melihat kenyataan saat ini, jelas sudah sangat menyimpang dari fungsi mahasiswa. Malah mereka menjadi tiang – tiang penyanggah rumah penguasa yang penuh dengan kepalsuan. Kenyataan ini jelas sudah sangat menginjak – injak kebebasan jiwa intelektualis. Mereka mengaku cendikiawan, tampah rasa malu lupah akan tugas dan fungsi yang sebenarnya. Bisa dikata,zaman ini adalah zaman di mana kaum cendikiawan dan penguasa berkolaborasi di atas panggung politik praktis, untuk menindas rakyat yang sudah sangat menderita. Lihat lah media massa saat ini di setiap detik. Di mana hukum tajam ke bawah tumpul ke atas.

Baca Juga :  Telaah kritis : Menuju Gen Indonesia Emas 2045

Hakim pengacara, dan aparat menggangap dirinya terpelajar namun, sungguh ironis, terimah sogok sana sini. Dan akhirnya rakyat yang tak punya jadi korban dari moral penguasa yang sangat kejam dan totaliter.

Aku bukan presiden,  aku bukan hakim, aku bukan aparat, aku juga bukan politisi, aku hanya binatang jalang yang ingin belajar jadi manusia, memanusiakan manusia adalah Tugasku.

Editor : Muh Alwi

Berita Terkait

PT Vale, Pemerintah, Oligarki, dan Masa Depan Masyarakat Luwu Timur
Siapa AKBP Dodik Susianto, S.I.K Sosok Dibalik Pengungkapan Kasus Sabu 30 Kg
Jauh Panggang Dari Api, Cita-Cita pendidikan Bangsa Kian Distopia
Minimnya Representasi Perempuan Dalam Agenda Prioritas Reformasi Birokrasi Pemerintah Indonesia
Alternatif Masyarakat, Organda Mahasiswa Dalam Pusaran Permasalahan Fungsional
Implikasi Konflik Rusia-Ukraina terhadap Indonesia : Dampak dan Strategi
Kota Bola Tanpa Stadion, Bagaikan Kota Tanpa Siri’
Tidak Ada yang Lebih Puitis Dari Pada Berbicara Kebenaran

Berita Terkait

Senin, 1 Juli 2024 - 12:49 WIB

Alternatif Masyarakat, Organda Mahasiswa Dalam Pusaran Permasalahan Fungsional

Jumat, 10 Februari 2023 - 17:58 WIB

Hari Pers Nasional dan Kebebasan Menulis

Senin, 17 Februari 2025 - 20:39 WIB

Jauh Panggang Dari Api, Cita-Cita pendidikan Bangsa Kian Distopia

Jumat, 5 Juli 2024 - 20:49 WIB

Nahkoda Baru Kolaka 2024, Kaum Muda Bukan Sedekar Objek Politik

Minggu, 30 April 2023 - 18:23 WIB

Beda Pilihan Jelang Tahun Politik 2024

Sabtu, 18 Mei 2024 - 16:13 WIB

Terima Kasih Bahtiar, Telah Menyimpan Banyak Kisah di Sulsel

Rabu, 25 Oktober 2023 - 14:53 WIB

Peran Pemuda Dalam Ekonomi Kreatif Sebagai Lokomotif Pembangunan Ekonomi Nasional

Minggu, 5 Maret 2023 - 11:02 WIB

Kota Bola Tanpa Stadion, Bagaikan Kota Tanpa Siri’

Berita Terbaru

Dilarang Curi berita