Minasanews.com,Makassar- OYPMK ialah kepanjangan dari orang yang pernah mengalami kusta atau eks penyitas yang hingga detik ini terus mengalami stigma yang negatif terutama ketika menarik isu kearifan lokal masyarakat Bugis-Makassar. Stigma negative dari OYPMK sebenarnya bisa tergerus seiring berjalannya waktu di era civil society Pendidikan yang berwawasan global serta bertindak secara lokal sehingga lahirnya keseimbangan dalam strata Pendidikan.
Tidak terkecuali Arpiah sebagai OYPMK yang berasal dari desa yang diapit tiga kabupaten di wilayah Sulawesi Selatan, yaitu kabupaten Bone, Barru, dan Soppeng yaitu Desa Sadar terletak di kecamatan Tellu limpoe kabupaten Bone.
Arpiah sempat bersekolah di kabupaten Barru rela meninggalkan desanya demi mendapatkan fasilitas Pendidikan yang layak, karena di tempat desa Arpiah tinggal fasilitas Pendidikan tidak memadai sehingga ia memberanikan diri untuk bersekolah di kabupaten tetangga. Setelah lulus SD ia tidak rela meninggalkan bapaknya dikampung dikarenakan ibunya telah tiada. Namun Arpiah merasa bahwa Pendidikan lah yang utama, namun lambat laun seiring proses sekolah menengah pertamanya harus terhenti di tengah jalan akibat bapaknya tidak ada yang merawat di kampung dan juga ia merasa kondisinya saat itu sedang tidak baik-baik saja.
Tibalah hari dimana perasaan Arpiah bekecamuk melihat bercak merah tepat di pipi kanannya, diawal munculnya bercak tersebut ia sempat mengabaikannya namun setelah itu ia merasa ada yang aneh ketika menyentuh pipinya tidak merasakan sesuatu seolah Ketika ia menjatuhkan jemarinya dipipi seperti tidak ada yang tersentuh saat itu.
Kondisinya semakin diperparah saat bercak tersebut mengalami reaksi yang cukup membuat ia tersentak, sehingga dengan cepat berbagi cerita dengan kakaknya. Namun saat itu dengan kondisi kurangnya edukasi menyoal penyakit kusta di desanya sangat kurang, sehingga ia Bersama kakaknya memberanikan diri berangkat meninggalkan desa dan turun ke Kabupaten Barru untuk mengecek bercak yang menempel dipipinya.
Setelah periksa disalah satu puskesmas di Barru dan di diagnosa mengidap kusta, ia sama sekali belum tahu menahu soal seperti apa penyakit tersebut, tapi setelah browsing ia kaget dan muncul pertanyaan besar dikepalanya kenapa penyakit kulit itu bisa hinggap di tubuhnya.
“Saya menganggap biasa saja saat bercak itu muncul, tapi setelah di diagnosa dan mencoba browsing di internet, setelah mengetahui saya cukup kaget dan mencoba menyembunyikannya dari bapak saya,”ucapnya.
Ia pun memulai pengobatan dan memutuskan untuk berhenti dari sekolahnya yang telah berjalan di awal semester, yang paling menyayat hati sembari ia berobat juga ia harus merawat bapaknya dikampung karena faktor yang telah memasuki usia senja.
Hari demi hari terus berjalan sembari ia melakukan pengobatan Arpiah juga merawat bapaknya sepulang bertani, di kepalanya Ketika termenung acap kali memikirkan keberlangsungan sekolahnya yang harus ia tinggalkan dan juga teman-temannya karena pada dasarnya umur Arpiah saat itu tiga belas tahun sedang ceria-cerianya bersosialisasi bersama teman sebayanya.
“Selalu saya termenung, setiap termenung terkadang saya pikir sekolah saya karena saya punya mimpi perbaiki kondisi ekonomi keluarga melalui kerja di kantor, tapi saat itu Ketika lihat anak yang berbaju sekolah saya merasa iri karena sekolah saya harus terhenti,”ucapnya.
Pengobatannya terus ia lakukan secara konsisten dengan meminum obat secara teratur, tiba di pertengahan pengobatannya sekujur tubuhnya menghitam dan tersadar efek tersebut telah berpengaruh di tubuhnya. Arpiah merasa minder di keluarga hingga lingkungan sekitar tapi ia tetap konsisten meminum obat, tiba di satu hari keluarganya meminta untuk berobat ke dukun tapi ia menolak karena percaya obat yang ia dapatkan dari puskemas akan membawa kearah kesembuhan.
Selepas masa pengobatan Arpiah dan merasa semua mulai Kembali normal, ia mencoba Kembali beradaptasi untuk memperbaiki kehidupannya dengan mencari informasi untuk melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda beberapa tahun namun saat itu umurnya telah melewati masa sekolahnya di sekolah menengah pertama. Yang membuat menyanyat hati niatan bersekolah telah terkumpul dengan baik tapi akses informasi untuk melanjutkan Pendidikan tidak ada sama sekali.Ayah Arpiah juga sempat berpesan untuk tidak perlu melanjutkan Pendidikan karena akan menelan banyak biaya.
Akhirnya Arpiah memutuskan untuk mengabdi di Permata sebagai penyuluh bagi OYMPK sembari mencari informasi agar sekolahnya bisa ia lanjutkan sebagaimana teman-temannya yang lain dapatkan. Selama beberapa tahun mengabdi di permata, ia mendapatkan informasi soal sekolah dengan harapan cerah untuk Kembali mengeyam Pendidikan meskipun melalui program paket untuk mengejar ketertinggalan sekolahnya.
“Saya sudah bersiap Kembali untuk bersekolah mengejar ketertinggalan saya, semoga nantinya bisa sekonsisten seperti saat saya melakukan pengobatan,”pungkasnya.
Disisi lain jurnalis mencoba menghubungi pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Barru untuk mengonfirmasi program paket B dan C terlebih khusus untuk kaum rentan.
“Kita selalu fasilitasi siapa saja yang mau bersekolah, bahkan kita telah melakukan survey disetiap desa untuk memfasilitasi anak putus sekolah hingga kaum rentan untuk tetap melanjutkan sekolahnya, jadi pada dasarnya konsep kesetaraan itu sangat penting terlebih lagi dalam dunia Pendidikan,”ungkap Sarifa Faradiba salah satu Kepala UPT di Dinas Pendidikan Barru saat di hubungi.
Perlu diketahui berdasarkan data dari NRL di tahun 2023 total 1.214 anak OYPMK yang bisa saja berpotensi putus sekolah di karenakan dipengaruhi banyak faktor terutama faktor sosial yang mungkin saja membuat mereka untuk memutuskan untuk berhenti sekolah untuk focus pada pengobatan.Namun dari sekian banyak dari data tersebut Arpiah mencoba memutus angka anak putus sekolah untuk membangun asa memupuk mimpi-mimpinya.
“Sebenarnya banyak faktor yang membuat OYPMK putus sekolah, faktor Kesehatan juga mempengaruhi OYPMK yang dimana Ketika reaksi itu sangat sulit untuk mengimbangi diri, lalu faktor sosial yaitu diskriminasi Ketika OYPMK melanjutkan Pendidikan ia bisa saja dibully sama temannya di sekolah, namun pada dasarnya itu bukan hambatan bagi OYPMK Ketika orangtua terlibat langsung mendukung anaknya untuk Kembali melanjutkan sekolahnya,”jelas Uswatunhasana perwakilan dari NRL.
Bukan hanya kasus seperti Arpiah yang memutuskan untuk berhenti dari sekolah namun ada yang membuat menarik ada salah satu OYPMK asal Bone bernama Fadrian yang memutus benang merah bahwa OYPMK tidak bisa bersekolah hingga ke Pendidikan tinggi. Mental Fadrian tergolong baja saat Ketika ia di diagnosa OYPMK, ia memilih untuk terus bersekolah di salah satu sekolah menengah atas di Bone saat itu meskipun pengobatannya tetap berjalan. Tapi asa Fadrian terus Ia jaga sampai menyelesaikan wisuda Strata 1 di IAIN Bone.
“Bukan halangan saat itu untuk saya berhenti sekolah, orang tua lah peran penting saat itu mendukung saya untuk terus melanjutkan ke Pendidikan tinggi, meski saat itu saya sempat cuti satu semester untuk berobat tapi pada akhirnya saya di wisuda juga saat itu,”ucap Fadrian.
Jika di telisik hingga hari ini banyak OYPMK telah melanjutkan ke Pendidikan tinggi hingga universitas yang pada dasarnya OYPMK tidak lagi mempunyai alasan untuk tidak melanjutkan Pendidikan. Selain itu OYPMK memerlukan dukungan penuh dari keluarga terdekat agar mendapat dorongan positif untuk kembali melanjutkan Pendidikan setelah putus sekolah akibat telah di diagnosa OYPMK, karena setiap orang berhak menerima Pendidikan yang layak walaupun penyandang disabilitas maupun OYPMK.





















