Peresmian tersebut turut dihadiri Direktur Utama PT Nusantara Land Development Tri Wijaya, Owner Bumi Tirta Nusantara Grup sekaligus Senior Kehormatan REI Sulawesi Selatan Opa Aras, Owner PT Bumi Pundi Karsa H. Badris, Senior Manager of Derivative & Non Cement Sales Project SIG Adi Akmal, Senior Manager Communication & Secretariate PT Semen Tonasa Hardiman, Abdul Fatah dari PT Varia Usaha Beton, serta Kepala Desa Tellumpoccoe H. Danil.
Dalam kesempatan tersebut, Anis menjelaskan bahwa penamaan Bata Interlock Presisi mencerminkan salah satu keunggulan utama produk tersebut, yakni tingkat ketepatan atau presisi yang dimilikinya.
“Alhamdulillah, hari ini peresmian rumah BIP yang menggunakan Bata Interlock Presisi. Kenapa Bata Interlock Presisi diberikan nama oleh SIG, karena mungkin ini bukan satu-satunya produk Bata Interlock yang ada di Indonesia. Tetapi mungkin satu-satunya Bata Interlock yang sangat presisi,” ujar Anis.
Menurut Anis, hunian yang diresmikan tersebut menjadi salah satu proyek perumahan awal di Sulawesi Selatan yang menerapkan teknologi Bata Interlock. Penggunaannya dinilai dapat mempercepat proses pembangunan secara signifikan dibandingkan metode konvensional.
Ia menjelaskan, pembangunan rumah dengan metode konvensional dapat memerlukan waktu sekitar empat hingga lima bulan. Sementara dengan BIP dan dukungan pekerja yang telah memperoleh pelatihan, waktu pengerjaan satu unit rumah ditargetkan dapat ditekan hingga maksimal sekitar satu bulan.
“Kalau seperti yang kelihatan di belakang kita ini, rumah-rumah tipe subsidi mungkin dalam membangun satu rumah membutuhkan waktu empat sampai lima bulan. Tetapi Insya Allah dengan menggunakan Bata Interlock Presisi dan para pekerja bangunan yang sudah dilatih dengan baik, satu rumah ini bisa diselesaikan paling lama hanya satu bulan,” katanya.
Efisiensi waktu tersebut, lanjut Anis, juga berpotensi berdampak terhadap biaya pembangunan. Salah satu komponen biaya yang cukup besar dalam pembangunan rumah adalah tenaga kerja. Dengan waktu pengerjaan yang lebih singkat, biaya tenaga kerja diharapkan dapat ditekan.
“Bayangkan, cost terbesar di dalam pembangunan rumah salah satunya adalah cost tukang. Jadi kalau kita bisa memangkas lebih dari 50 persen dari cost tukang, Insya Allah program pemerintah untuk bagaimana masyarakat bisa menjangkau rumah dan memiliki rumah, kita juga ikut membantu,” jelasnya.
Anis mengatakan, pengembangan BIP merupakan bagian dari upaya Semen Indonesia Group (SIG) menghadirkan solusi konstruksi yang dapat mendukung kebutuhan masyarakat, termasuk dalam penyediaan hunian yang lebih efisien.
“Visi dari SIG adalah bagaimana bersama-sama memberikan solusi kepada masyarakat Indonesia, sehingga masyarakat bisa menikmati rumah ke depan dengan lebih baik,” ujarnya.
Sebagai bagian dari SIG, Semen Tonasa turut mendukung pengembangan tersebut melalui penyediaan material semen untuk kawasan Indonesia Timur. Produksi bata interlock sendiri dilakukan bersama mitra dari unit usaha beton.
“Kami dari Semen Tonasa yang merupakan bagian dari Semen Indonesia yang melayani Indonesia Timur. Bersama-sama unit usaha beton yang memproduksi ini, kami bagian memproduksi semennya di Sulawesi Selatan,” kata Anis.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas penggunaan teknologi konstruksi yang lebih efisien dengan memanfaatkan dukungan material lokal. Ke depan, penerapan BIP SIG juga diharapkan dapat berkembang ke berbagai wilayah di Indonesia Timur.
Sementara itu, Direktur Utama PT Nusantara Land Development, Tri Wijaya, mengatakan hunian yang dikembangkan mengusung perpaduan antara kecepatan pembangunan dan desain modern yang terinspirasi dari konsep rumah di Eropa.
“Model-modelnya mirip dengan rumah-rumah di Milano, rumah-rumah di Eropa yang sangat eksklusif. Ini yang kami coba hadirkan di sini. Sebuah kehormatan bagi kami karena menjadi rumah pertama di Sulawesi yang menghadirkan rumah dengan bahan bata interlock presisi SIG,” ujarnya.
Tri menjelaskan, Maros dipilih sebagai lokasi pengembangan karena memiliki akses yang dekat dengan Makassar dan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Selain itu, kawasan tersebut dinilai memiliki posisi strategis sebagai daerah penyangga Kota Makassar.
“Saya memilih di Maros karena ini salah satu perumahan kami yang paling dekat dari Makassar. Lokasinya juga dekat dari Bandara Sultan Hasanuddin dan Maros menjadi kota penopang Makassar,” katanya.
Ia menambahkan, penggunaan BIP menjadi salah satu upaya pengembang menghadirkan alternatif material konstruksi dengan kualitas yang baik sekaligus mempertimbangkan keterjangkauan harga.
“Kami menghadirkan bahan yang berbeda dengan kualitas yang bagus tetapi dengan harga yang lebih murah,” ujarnya.
Tidak hanya menyasar hunian komersial, PT Nusantara Land Development juga membuka peluang untuk menerapkan teknologi BIP pada pembangunan rumah subsidi. Rencana tersebut saat ini masih dalam tahap perancangan untuk dikembangkan pada proyek berikutnya.
“Ke depan kami akan coba memikirkan dan membuat satu kompleks perumahan kami di lokasi lain yang bisa menerapkan ini untuk rumah subsidi. Sementara kami rancang, semoga ke depannya bisa seperti itu,” katanya















